Thursday, September 22, 2016

Rainbow in MyPast

          Dewi duduk di sebuah meja di kamarnya. Dia masih terpaku memandangi foto-fotonya. Masa lalu adalah cerita yang tak bisa ia sendiri mengubahnya. Seakan memang takdir adanya. Seorang anak gadis datang menghampirinya sambil menyeret kursi agar bisa duduk di sebelahnya. Dia melihat apa yang di lihat Dewi. Itu adalah putri Dewi, Mayang.
          Mayang melihat foto yang dilihat Bundanya. Wajah Bundanya waktu masih muda sama sepertinya. Tapi ada satu pria yang ada di foto itu bersama Bunda dan Ayahnnya. Hari itu Mayang berulang tahun yang ke 20. Pesta memang sudah selesai. Tapi ada yang masih terselip di hati Dewi di hari yang sama dengan hari ulang tahun putrinya itu.
          “Siapa pria ini?” tanya Mayang pada Bundanya.
          “Dia, sebuah tokoh di ceritaku yang panjang,” jelas Dewi.
          “Bisa kau ceritakan padaku?”
          “Karena kau sudah 20 tahun, Bunda ceritakan padamu,”
Cerita itu berawal di hari yang sama saat Mayang berulang tahun. Pertemuan Dewi, Joe suaminya dan Reno, kakak dari Joe. Sebenarnya pertemuan mereka dimulai seminggu
sebelum itu tapi hanya saling memandang tak bicara. Dewi, Joe dan Reno dilahirkan bukan di kalangan keluarga yang biasa-biasa. Hidup mereka juga tak pernah biasa. Sejak Dewi memiliki sim, dia sudah mendapatkan mobil kesukaannya. Saat itu Dewi duduk di sebuah bangku taman. Dan di seberang ada Joe dan Reno melihatnya. Dewi muda adalah orang yang arogan, egois, dan dingin. Dia juga diberikan berkat tuhan karena memiliki wajah paling cantik yang pernah ada. Tapi yang dia suka hanya bermain-main dengan pria. Tak ada kata serius dalam hidupnya, karena jodoh hanya ada di tangan Ibunya. Jadi hidupnya dihabiskan untuk hura-hura.
          “Bunda dan Ayah bertemu di hari yang sama saat kau berulang tahun di rumah ini, karena arisan para ibu-ibu...” kata Dew membelai rambut putrinya.
Ibu dari Dewi berteriak dari lantai atas. Ayahnya turun dengan tergesa-gesa. Merapikan dasi. Dewi baru saja pulang dari taman. Matanya terpaku hampa tanpa satupun cahaya yang biasanya dimiliki anak seusiannya. Semua hanya yang diinginkan dia dapatkan bukan berarti dia bahagia. Sebagai anak tunggal semua hal memilik aturan dan semuanya harus ia turuti, suka atau tidak suka.
          “Nanti Ayah pulang agak lebih cepat ya, nanti Ibu ada arisan, terus Ayah sama Dewi juga harus ikut,” kata sang ibu
          “Iya, Ayah usahain,” jawab Ayahnya sambil mencium kening Ibu dan Dewi bergantian dan berlalu.
          “Kau harusnya juga bertanya padaku dari sudut pandangku,” kata Joe tiba-tiba datang.
          “Kau mau menambahkan apa?” tanya Dewi.
Di taman, saat Joe dan Reno sedang menikmati es krim yang baru dibeli dari uang pertama Reno gajian di bengkel tempat Ayahnya bekerja. Dewi yang sedang berjalan dan tak sengaja menyengol Reno. Saat es krim Reno jatuh, Dewi bukan minta maaf tapi dia berlalu tanpa ekspresi. Di rumah ini, Papa dan Mama Joe dan Reno sedang menyiapkan arisan, yang bertujuan untuk pertemuan seluruh keluarga. Dan mungkin salah satu dari mereka akan di jodohkan dengan teman orangtuanya. Malam berlalu begitu cepat. Reno yang masih dongkol dengan kejadian itu hanya bisa memedamkan rasanya. Reno dan Joe turun ke bawah melihat para tamu yang datang. Banyak gadis cantik yang ada disana. Sampai Dewi dan keluarganya datang. Dengan dress pendek berwarna putih, warna kesukaan Dewi dia memasuki ruangan itu. Semua mata tertuju hanya padanya, begitupun Joe dan Reno.
          “Cewek itu lagi, bro..” kata Joe terpesona.
Reno yang masih kesal mengikuti Dewi ke tempat makanan. Dewi mengambil segelas sirup, saat Reno di hadapannya dia hanya memasang wajah biasa saja.
          “Saat orang menjatuhkan barangmu, apa yang kau lakukan Nona?” tanya Reno to the point.
          “Aku?” Dewi memutar gelasnya. “Aku tak perduli,”
Hati Reno makin kesal. Dia dengan sengaja menyengol Dewi. Dewi hanya menatap bajunya yang kotor karena sirup itu.
          “Itu untuk es krimku yang kau jatuhkan,”
          “Like a child,”
Mata Reno dan Dewi saling memandang tajam. Mereka tak bicara sepatah katapun sampai mama Reno menarik tangan Reno agar menjauh dari Dewi.
          “Sayang, ini anaknya Om Ridwan, Dewi namanya, Dewi ini anak Tante, Reno dan Joe,”
Dewi hanya diam saja saat dikenalkan. Pembicaraan langsung dialihkan ke Ibunya. Apa lagi perjodohan Dewi dengan satu dari dua putranya itu.
          “Bagaimana jika kita biarakan Dewi saja yang memilih, Joe atau Reno,” usul sang Ayah.
Semuanya setuju. Dewi bahkan tak bisa merasakan marah, sedih kecewa atau senang. Ia kehilangan emosinya saat dia kehilangan cinta pertamanya yang kecelakaan dan akhirnya meninggal. Saat itu pria baginya hanya permainan. Tak ada yang bisa memilikinya lebih dari sebulan.
          Besoknya Joe dan Reno diusir mamanya agar pergi ke rumah Dewi. Sampai di sana yang dikunjungi menutup telingannya dengan mp3 sambil membaca buku di dekat kolam renang. Dewi sama sekali tak menghiraukan apa yang dilakukan Reno dan Joe di hadapannya. Tak sampai 10 menit Dewi ngeloyor pergi. Bunda Dewi yang sedari tadi melihat tingkah putrinya.
          “Tante, minta maaf soal prilaku Dewi,”katanya tiba-tiba.
          “Eh, Tante,” sahut mereka kompak. “Sebenernya kenapa sampai dia gak punya ekspresi begitu, Tan?” tanya Reno memberanikan diri.
          “Dewi....” cerita Bunda Dewi.
Dewi pernah jatuh cinta, cinta pertamanya sangat indah. Orangtua satu sama lainpun sudah setuju. Dia namanya Satria. Satria dan Dewi sebenarnya saling mencintai dan selalu bersama. Satria meninggal karena kecelakaan saat itu, Dewi juga ada di sana. Dia melihat Satria meninggal di pangkuannya. Dia menangis dan akhirnya pingsan. Saat sadar, dia sudah menjadi seperti itu. Matanya tak berpijar lagi. Emosinya datar. Setiap sebulan sekali dia harus ke Pisikiater. Tapi tetap dia tidak berubah. Semua orang di komplek itu pun tak begitu suka sikap Dewi. Tapi Dewi tak perduli. Karena kecelakaan itu juga Dewi tak berani naik motor. Orangtuanya pun sepakat membelikan mobil untuknya.
          “Kau suka warna putih, ya?” tanya Reno saat Dewi ingin masuk mobil. “Tapi sayang, hatimu gak seputih semua barang-barangmu,”
          “Aku suka putih agar aku tahu ketika barangku kotor atau terkena noda, dan aku akan membuang barang itu,”
          “Begitukah, dasar tak punya perasaan,”
          “Untuk apa kau mempertahankan sesuatu yang sudah kotor?”
Dewi masuk ke mobilnya. Dengan cepat juga Reno ikut masuk. Dewi tak komentar. Dia melaju dengan kecepatan tinggi. Reno sampai ketakutan dibuatnya. Mereka menuju taman dekat kompleks perumahan itu. Banyak pedagang yang mangkal di sana. Dewi duduk sambil menatap anak-anak yang bermain di depannya. Tiba-tiba saja Reno muncul di depannya sambil membawa ballon. Dewi tak bergeming sama sekali. Walaupun dia memegang ballon berwarna putih itu. Dia merasakan beberapa saat kemudian, di depannya berdiri dirinya sendiri waktu muda bersama Satria. Saat dirinya ulang tahun, Satria membelikan ballon putih sebanyak 17, sebanyak umurnya saat itu. Dia tersenyum senang. Satria juga memberikan bunga mawar putih 17 batang. Dewi memejamkan mata dan melpaskan ballon putih yang dia pegang terbang. Dewi merasakan kepalanya sangat sakit. Dewi berjalan terseok-seok ke mobilnya.
          “Biar aku yang bawa,”
          “Minggir,”
Dewi menodorong tubuh Reno. Reno segera berlari ke pintu seberang. Dan masuk. Raut muka Dewi kembali seperti semula. Di tengah jalan, terjadi kecelakaan.
          “Tolong, bawa ke rumah sakit,” kata seorang bapak-bapak pada Reno.
          “Kita tolong dia ya?” kata Reno pada Dewi.
          “Apa, buat apa?” kata Dewi marah.
          “Kau bisa juga marah akhirnya,”
          “Bisa kau berhenti mengangguku,”
          “Tolong sekali ini saja,”
Beberapa orang membawa korban kecelakaan masuk ke mobilnya. Rumah sakit berada 10 km dari sana. Darah korban itu mengotori kursi putih di bagian belakang. Dewi mengucurkan keringat dingin, tapi dia masih bisa mengendalikan dirinya. Bau amis darah membuat dirinya sesak nafas. Samapi di parkiran rumah sakit. Korban itu dibawa turun mobil. Saat Dewi menoleh ke belakang, melihat darah. Dia pingsan. Reno panik dan membawanya ke rumah sakit juga. Dia juga menelpon Bunda dan Ayah Dewi. Mereka dengan cepat datang.
          “Maafkan aku tak bercerita padamu, Reno,” kata Bunda Dewi.
          “Bercerita apa, Tante?”
          “Dewi, takut melihat darah, dia akan pinsan saat melihat darah,”
          “Maafkan aku Tante, Om, salahku,”
          “Bukan, ini salahku, tak memberitahumu lebih dahulu...”
Dewi sudah duduk di ranjangnya. Dia melihat ke luar jendela. Dia sudah pingsan 3 hari. Kepalanya sudah terasa sakit. Dia turun dari ranjang dan melepas infusnya. Dia akhirnya berkeliling di rumah sakit. Tapi pikirannya melayang bahkan terbang bersama angin.
          “Apa yang sedang kau pikirkan?” tanya Reno. “Tapi maafkan aku ya?”
          “Aku tak ingin diganggu,”
          “Boleh aku tahu seberapa cinta kau dengan Satria?”
Dewi diam saja. Dia tetap berjalan. Reno tetap mengikutinya. Manusia tanpa emosi seperti Dewi akhirnya memiliki batas kesabaran. Dewi berhenti dan melotot ke Reno.
          “Selain tak punya emosi, sekali menunjukkannya kau malah marah, jawab saja pertanyaanku aku juga akan pergi,”
          “Ku jawabpun kau akan tetap seperti kutu menempel di tubuhku, kan?”
          “Kau benar-benar....” membalas tatapan Dewi. “Pintar, pemarah, dan bukan manusia,”
Dewi mengacuhkan Reno dan kembali ke kamarnya. Dia duduk, dia merasakan hal yang paling membuatnya gila. Dia sendiri ketakutan dengan semua hal yang menurut manusia tak menakutkan. Saat berceminpun dia seperti tak mengenal dirinya sendiri. Dia memiliki segalanya dan sekarang bahkan dia merasakan kelihalangan segalaanya. Kehilangan Satria adalah segalanya baginya. Pria manapun tak bisa mengantikan Satria. Dewi berbaring dan menutup wajahnya dengan bantal. Dia menangis sejadi-jadinya.
          “Kau menangis, Nona Paramita?” tanya Reno.
Dewi menghapus air matanya dan bangun. Dia melihat Reno menahan tawa. Dewi menyedot ingusnya yang hampir keluar.
          “Aku kira kau bukan manusia, ternyata kau bisa menangis juga, mau cerita?”
          “Kenapa kau selalu mengangguku?”
          “Aku, aku penasaran denganmu,”
Dewi menyeritkan dahinya. Dia malah menatap meyelidik dari atas ke bawah. Dan memiringkan kepalanya. Reno juga mengikuti gayanya.
          “Kalo ku lihat, semakin lama kau semakin mirib manusia,”
          Dewi memalingkan wajahnya saking kesalnya, “Aku memang bukan manusia kan?”
          “Benar, kau juga merasa ya?”
          “Tapi terimakasih kau sudah mengangguku setiap hari,”
          “Seperti apa kau dulu, sepertinya sama saja,”
          Dewi tersenyum untuk pertama kalinya setelah kecelakaan itu, “Karena kau memperlihatkan darah padaku,”
Dewi mengingat semua kejadian saat Satria meninggal di pangkuannya. Setiap sebulan sekali ke pisikiater, mereka membuat Dewi melupakan hal yang paling menakutkan di dalam hidupnya. Tapi dia juga akhirnya kehilangan semua rasa untuk menyampaikan emosinya. Dewi kembali bekerja di kantor Ayahnya. Dia mungkin sama seperti kemarin tapi kalau di depan Reno dia mulai berbelajar menunjukkan respon emosi, walaupun responnya hanya marah dan marah.
          “Aku ingin menemui...” kata Dewi ke bengkel tempat Reno.
          “Hei, dew,” panggil Joe dari sebuah mobil. Tanganya belepotan. “Mau cari siapa?”
          “Reno, ada?” dengan tampang datarnya.
          “Ada, itu ruanganya,”
          “Terimakasih,”
Dewi langsung menuju ruangan yang di tunjuk Joe. Reno sedang mengecheck barang di bengkelnya. Dia begitu serius sampai tak merasa Dewi sudah duduk di hadapnnya. Dewi duduk menopang dagunya.
          “Hah, kau ada di hadapanku kenapa tak bicara, buatku kaget saja,” kata Reno kaget.
          “Kenapa mesti bicara, lagian kau punya mata, bisa melihatku kan?”
          “Kau itu, hanya kehilangan emosi atau kau juga kehilangan sopan santun?”
          “Jangan bicara seperti Bundaku,”
          “Siapapun akan bicara seperti itu, kalau kau masuk tanpa izin,”
Dewi mulai bosan, Reno mengoceh. Dia mematung dan sesekali melihat ponselnya. Reno berhenti dan menatap Dewi marah.
          “Ada apa Nona Paramita kemari?”
          “Tuan sasmita, aku hanya ingin kau mencuci mobilku, dan mengechecknya,”
Reno tertunduk malas bercampur marah. Dia mengatupkan rahanya saking menahan amarah. Dia menarik Dewi keluar dari ruangannya. Menyuruh seorang pegawai menuruti semua perintah Dewi. Tapi saat Reno akan balik ke ruangannya, Dewi menarik tangan Reno.
          “Aku memintamu, bukan stafmu,”
          “Aku sibuk,”
          “Aku tunggu,”
          “APA?”
Dewi bersikeras menunggu sampai Reno selesai. Dia duduk di sofa di ruangan Reno. Bermain game, menelpon, chating, dan semuanya ia lakukan, itu membuat Reno makin tak sabar. Dia akhirnya keluar, melepaskan dasi yang dia kenakan. Dewi keluar dan tersenyum penuh kemenangan. Reno memeriksa mobil Dewi, melakukan uji coba, lalu mencucinya.
          “Kenapa tidak dari tadi kau melakukannya?”
Reno yang menahan amarah, menyiram Dewi dengan air. Dewi mengigit bibirnya dan mengambil spon yang berisi sabun, melmpar ke arah Reno. Tepat baju Reno kena sabun. Mereka akhirnya saling melempar, sampai mereka kelelahan.
          “Kalian persis anak kecil,” protes Joe saat dia dan Reno sampai di rumah.
          “Itu karena dia duluan, aku...” jawab Reno
          “Sepertinya kita semua tahu siapa yang di pilih Dewi sekarang,”
Reno malas sekali berdebat. Dia masuk ke kamarnya. Merebahkan dirinya, sejak Dewi muncul tanpa ekpresi di hadapannya, bayangan Dewi selalu saja muncul saat di memejamkan mata.
          Sebuah telpon dari Dewi, Renopun menghentikan pekerjaannya. Dan mengambil ponselnya. Tanpa Reno menjawab, Dewi ngoceh. Dia ingin Reno di akhir minggu ini meliburkan diri dan menemani Dewi ke suatu tempat. Dan dia juga sudah meminta ijin dari papa Reno. Reno hanya mengiyakan dan Dewi menutup telpon tanpa permisi. Sebelum kembali ke pekerjaannya, dia menghelakan nafas panjang. Akhir minggu datang dengan cepat. Dewi yang membawa mobil. Mereka sampai di sebuah villa di sebuah perkebunan teh milik keluarga Dewi. Setelah menaruh barang, Dewi mengajak Reno jalan-jalan, sampai di sebuah pemakaman umum, mereka menuju sebuah kuburan yang bertulisakan nama Satria dharmajaya. Dewi yang sedari tadi sudah membawa bunga mawar merah, meletakkannya di kuburan itu. Dewi memang suka warna putih tapi Satria menyukai warna merah. Mereka sama-sama menyukai mawar, tapi dengan berbeda warna. Dewi membersikan makam Satria. Reno duduk di samping Dewi.
          “Kami berbeda agama, tapi orangtuanya adalah sahabat kecil Ayahku, saat mereka tahu aku menyukainya, tak ada satupun yang protes, walaupun berbeda,” cerita Dewi. “Dia menyukai kalau hujan datang, dia bilang jika ada hujan rasanya semua noda yang melekat di badannya ikut luluh di bawa air hujan,”
          “Aku menyukai pelangi,”
          “Kenapa?”
          “Sama sepertinya, saat hujan datang, saat mendung, ataupun badai datang, aku berharap selalu ada pelangi dan langit akan cerah, sama seperti setelah kau menangis, terluka, hancur sekalipun, kau harus berharap ada pelangi dan wajahmu akan terdapat sebuah senyuman yang indah,”
Dewi berbalik menatap Reno. Hujan turun tiba-tiba, makin lama makin deras, mereka sama sekali tak membawa payung. Dewi tak mau kembali ke villa juga. Walaupun ia merasakan dingin yang luar biasa, dia tak mau pergi juga.
          “Aku yang membunuh Satria,” aku Dewi.
          “Apa?”
          “Aku yang dulu, jahil luar biasa, saat Satria membawa kami ke tempat ini, dia membawa motor dengan kecepatan yang sangat tinggi, dan muncul ide jahilku, aku menutup matanya,” Dewi tertunduk. “Kami jatuh, aku dan dia terpental, tak ada seorangpun disana, aku bangkit lebih dulu, memengang kepala Satria yang penuh darah, aku memanggil-manggil namanya, tapi tak ada jawaban,”
Dewi meneteskan air mata, hujan membantunya menyamarkan air matanya yang jatuh. Reno memengang bahu Dewi. Dia membungkuk dan menangis. Dia benar-benar menyesal. Reno mengendong Dewi pulang ke villa. Dia masih terisak. Reno hanya diam melihat Dewi duduk menghadap jendela. Villa itu jelas memiliki banyak kenangan. Tapi Dewi akhirnya berani kembali ke kenangan itu.
          “Masa lalu ada sebuah cerita, kau, aku ataupun Tuhan tak bisa mengubahnya, jalanin saja apa yang ada hari ini,” kata Reno memberikan teh panas.
Dewi masih terpaku. Matanya kosong. Tapi di hadapanya ada gambaran masa lalu dia dan Satria kecil sedang bermain taman di hadapannya. Dia masih melihat Satria tersenyum dan membelai rambutnya. Di saat yang sama Reno juga membelai rambut Dewi. Dewi memejamkan mata dan berharap itu bukan Reno tapi Satria. Reno makin berani mengelus pipi, leher dan mencium kening Dewi. Berlanjut ke bibirnya. Dewi sama sekali tak melawannya. Reno yang tak terkontrol mulai meraba dada Dewi. Malam itu sama seperti malam terakhir Dewi dengan Satria. Malam yang mereka habiskan hanya untuk berdua. Malam yang indah tapi penuh dengan dosa. Tak ada yang lain di pikirkan mereka. Mereka hanya tak ingin dipisahkan satu sama lain.
          Pagi-pagi, Dewi sudah berdiri di dekat kolam renang. Dia merenung, benarkah Satria sudah di gantikan oleh Reno. Benarkah itu terjadi, tanpa dia sadari? Reno mendatangi Dewi dan memeluk tubuh Dewi erat. Dia berterimakasih untuk kemarin malam. Dan juga meminta maaf karena melakukannya. Dewi hanya diam dan sesekali menghela nafas. Dimulai saat itu, hubungan mereka makin serius. Kedua keluarga juga sudah setuju dan menetapkan tanggal mereka bertunangan.
          “Lalu, Bunda menikah dengan Om Reno?” tanya Mayang makin penasaran.
          “Om Reno...” lanjut Joe.
Hari menjelang pertunangan, Reno ingin menemui Dewi untuk terakhir kalinya, sebagai pacarnya. Reno melihat Dewi datang, dia memakirkan mobilnya di seberang jalan. Karena tempat parkir penuh, Dewi tersenyum melihat Reno duduk si debuah cafe di kuta. Baru beberapa langkah mau menyebrang. Saat itu sangat macet total. Sebuah bom meledak, Dewi hanya bisa melihat Reno yang ada di dalam sana. Seorang bapak-bapak menahanya untuk kesana. Dan bom kedua meledak. Dewi hanya merasakan kakinya lemas. Dia hanya bisa menangis dan menangis. Saat semua korban berhasil dikenali, Dewi ke rumah sakit, memastikan kalo Reno baik-baik saja. Dia hanya menelan kekecewaan. Reno terbakar habis. Dia bahkan tak bisa mengenali Ayah dari bayi yang di kandung. Acara pertunangan tak bisa di batalkan, Dewi akhirnya menikah dengan Joe.
          “Jadi,” kata Mayang.
          “Maafkan Ayah Mayang,” kata Joe tertunduk.
          “Bunda, Ayah, ini bukan lelucon kan?”
          “Mayang, ini saatnya kau tahu semuanya,”
Mayang menangis. Dia menangis sambil memeluk Bundanya. Tangisnya bahkan tak terhenti. Kenyataan adalah kenyataan. Walaupun Joe berkata dia sudah menyayangi Mayang seperti anaknya. Mayang akhirnya berlari ke kamarnya. Joe dan Dewi memang sudah sepakat memberit tahu Mayang. Cepat atau lambat mereka tak bisa terus menyembunyikan kenyataan itu. Dan tak ingin Mayang mendengarnya dari orang lain. Dewi dan Joe membiarkan mayang menenangkan dirinya.
          “Aku minta maaf sudah mengorbakanmu sejauh ini, 20 tahun lebih kau berkorban demi aku, kau juga mempunyai cinta yang harus kau kejar bukan?” kata Dewi memulai.
          “Aku sekarang sudah terlau tua, untuk jatuh cinta lagi, bukan aku yang berkorban, tapi kau, aku mencintaimu Dewi sejak pertama kita bertemu,”
          Dewi hanya diam.
          “Yang kau cintai hanya kakakku, dan aku harus menjagamu, karena kau berharga untuknya dan untukku,”
Joe memeluk Dewi. Walaupun mereka sudah menikah, Dewi dan Joe tak punya anak lagi. Dewi hanya diam saja.
          “Bisakah kau mencintaiku, Dew?”
          “Dari pertama kita menikah, aku selalu mencobanya, tapi tetap tak bisa, maafkan aku,”
          Joe terlihat sedih. “Jadi selama ini aku bertahan karena Mayang?”
          “Bukan, ini juga demi Reno, keluarga kita, aku masih tetap mencoba, tapi terasa tidak adil bagimu, aku mendapatkan sebegitu besar cintamu tapi aku malah tak bisa memberikanmu apapun” kata Dewi. “Tapi sampai detik terakhir aku menghirup nafas, aku akan berusaha mencintaimu, Joe,”
Belajar apapun lebih gampang dari belajar mencintai orang yang tak pernah kau cintai. Selaluakan ada waktu untuk menyembuhkan luka, dan memulai lembaran hidup yang baru. Mayang akhirnya menerima semua kenyataan yang ada. Dia hanya meminta untuk berdoa untuk Ayahnya di surga sana. Dewi mengantarkan Mayang  ke pura keluarga Reno. Untuk pertama kalinya dia berdoa disana untuk orang yang mungkin membuatnya ada tapi tak pernah dia lihat. Semua hal ada yang pertama kali. Dan yang harus di jalanin, memang akan terjadi.



The end...

No comments:

Post a Comment