Saturday, September 24, 2016

Hiduplah Bahagia, Itu Doaku

            Aku duduk di sebuah pemakaman kecil di tengah kota itu. Gadis ini, gadis yang tiba-tiba datang dalam hidupku. Gadis yang ku berikan segalanya untuk buat dia bahagia dan juga sedih. Gadis yang selalu lupa apa yang aku katakan padanya setiap hari. Gadis bodoh yang mendorong diriku. Gadis ini juga yang memberikan kebahagiaan di akhir hidupnya untukku. Seorang pria yang selalu berdiri di pintu bis. Dia sekalipun tak pernah duduk dan berbicara.
            “Marissa, itu cakep ya?” kata gadis itu yang duduk di sebelakku.
            “Cakep apanya, biasa aja,” kataku.
Aku kembali membaca sampai kami turun di halte itu. Gadis itu hanya mengikutiku dari belakang. Ia sama sekali tak mau berjalan di sebelahku. Dia memang lebih kecil di banding aku, tapi kami bekerja di tempat yang sama dan ngekos juga bersama. Dia merantau untuk sampai kesini.  Waktu itu umurnya masih 19 tahun. Dia masih seperti anak kecil. Setiap masalah yang dihadapi dengan gampang dilupakan. Setiap nasehat yang ku berikan dengan semenit juga dia lupakan. Dia orang yang pelupa berat. Dengan keterbatasan emosiku, dia sering aku acuhkan.

Yang dia bisa lakukan hanya menggaruk kepalanya dan memikirkan kesalahannya. Tapi dengan tenang dia bisa tidur di mana saja. Dia juga dengan mudah menyukai seorang pria dan melupakannya. Namanya Mirah. Dari sikapnya yang ada pemalas yang lain menonjol disana. Tapi bagaimanapun aku memarahinya dia tak pernah marah ataupun membenciku.
            “Hei, cowok di depan kita itu seperti spiderman ya?” katanya berbisik padaku.
            Aku hanya tersenyum, “Tapi cowok bus mana?”
            “Kok kau jadi nyariin dia, bukannya kau bilang gak suka,”
            “Makin dilihat bikin merinding?”
            “Merinding, mana mungkin aku gak pernah ngerasain begitu,”
            “Makanya kau perlu sedikit peka,”
Kadang aku bicara padanya hari ini, besok kita bisa bicara sama seperti hari ini. Dia cepat sekali melupakan sesuatu. Kadang aku ingin seperti dia, bisa melupakan sesuatu dengan cepat dan kembali menjadi diriku yang semula. Dia juga kadang bisa tidak merindukan keluarganya. Saat keluargaku datang ke kosan, dia bisa menghilang mendadak dan kembali tanpa bertemu dengan keluargaku ynag datang. Kadang juga kata-katanya susah ku mengerti. Dia cenderung lebih suka menutup dirinya. Saat dia bicarapun pada seseorang dia jarang mau melihat mata orang itu. Dia lebih suka menunduk. Dia juga jarang peka pada orang lain. Disuruh apapun mau saja oleh orang lain.
            “Mirah, besok keluargaku dateng, kamu...”
            Dia hanya tersenyum, “Besok aku ada janji di rumah temanku,” katanya,
            “Teman yang mana?”
            “Ada saja, nanti aku kenalkan padamu ya?”
Kadang aku mengira di hanya di dekat rumah. Tapi bila keluargaku baru pulang besoknya dia tetap tak muncul, sampai keluargaku pergi.
            “Kau kemana saja?” tanyaku cemas karena dia baru pulang pagi harinya.
            “Hehe, kemarin aku bermain di rumah teman sampai ketiduran,” katanya enteng.
            “Benarkah?”
            “Sungguh,” sambil tersenyum penuh arti.
Aku benar-benar penasaran dibuatnya. Seminggu lagi dengan bohong aku bilang, kakakku akan datang ke kos, dengan alasan yang sama dia bilang padaku. Saat di pergi, aku mengikutinya. Dia selalu pergi hanya dengan jaket tipisnya. Sepanjang jalan dia bernyanyi dengan langkah yang riang. Tanpa aku sadari selembar demi selembar tissue di keluarkan sambil mengusap hidungnya. Saat tissuenya dibuang, aku melihat tissu itu penuh dengan bercak darah. Dia ternyata menuju sebuah rumah sakit. Sebenarnya itu seperti tempat praktek dokter. Dia masuk dan aku tak bisa mengikutinya lagi. Setelah dia pergi, aku baru masuk ke dalam.
            “Selamat sore, nona bisa di bantu,” kata seorang perawat.
            “Aku mau tanya sesuatu boleh,”
            “Apa?”
            “Temanku tadi masuk kemari dia kenapa ya?”
            “Dia adik dari dokter Peter, kalau mau bertanya tentang itu saja juga kurang tahu, bisa tanya ke dokter Peter langsung,”
            “Bisa saya bertemu dengan dokter Peter itu?”
            “Tentu, silahkan isi daftar dan setelah saya panggil boleh masuk,”
Aku menunggu di ruang tunggu. Ada sekitar setengah jam, baru namaku dipanggil. Aku masuk ke pintu yang bertuliskan ‘Dr Peter’. Saat aku masuk cowok yang selalu berdiri di bus memakai baju putih dan dia yang bernama Peter. Jadi dia kakak Mirah.
            “Anda kakak dari Mirah?” tanyaku memulai.
            “Mirah, siapa itu Mirah?” tanyanya balik seakan tak kenal Mirah.
            “Gadis yang baru saja...”
            “Namanya Renata, bukan Mirah, anda kenal Rena?”
            “Dia, tinggal bersamaku,”
            “Tinggal apa?”
Peter menceritakan kalau renata adalah adik sepupunya. Dia sering kemari karena Renata mengidap penyakit kanker otak. Dia sama sekali tak mau dikemo ataupun pergi ke rumah sakit. Dia selalu bilang tiap kemari, kalau dia tinggal bersama kakaknya. Peter ingin Marissa tidak memarahi Renata. Walaupun dimarahi besok dia akan lupa apa yang aku katakan.
            “Dia mengalami kecelakaan, sebuah kaca menusuk otaknya sampai ke dalam, dan membuatnya seperti itu,” Peter menatap Marissa, “Saat itu umurnya 3 tahun, semakin lama luka di kepalanya itu makin parah,”
            “Apa yang harus ku lakukan?”
            “Bersikaplah yang biasa saja, jaga dia, karena biasanya dia tak akan tahan pada orang lain selama ini, cuma anda, tolonglah,”
Aku pulang dengan hati hancur. Dia tak sepantasnnya aku perlakukan begitu. Aku terlalu kejam, saat melihatnya duduk dan makan sate di pinggir jalan. Hatiku seakan menyuruhku datang ke sana.
            “Ngapain kau di sini, bukannya Kakakmu datang ya?” kata Mirah alias Renata.
            “Aku mau beliin Kakakku sate, kau sedang apa disini?” tanyaku pura-pura sinis.
            “Seperti yang kau lihat, aku makan disini,” dengan mulut penuh dia bicara.
            “Ayo pulang,”
            “Tapikan Kakakmu masih dikosan, masa aku...”
            “Kenapa kau takut bertemu keluargaku?”
            “Aku...” Renata menunduk. “Aku kan selalu menyusahkanmu, mana mungkin aku berani...”
            “Kenapa kalau kau tahu menyusahkanku, kau harusnya lebih berani, lebih mandiri, memangnya aku akan selalu di sampingmu?”
            “Kau akan selalu di sampingku tapi aku yang tak akan selalu di sam...”
            “Cukup, ayo pulang!”
Aku menarik renata sampai di halte terdekat dan menunggu bus. Renata duduk sambil celingukan. Aku akan menyimpan semua yang aku tahu. Dia juga sudah menyimpan yang dia tahukan. Aku juga akan melakukannya. Saat renata melihatku aku hanya tersenyum. Dan dia juga tersenyum. Aku berpikir, apa yang sedang anak ini pikikan dan rasakan.
            “Bagaimana kalau kita jalan saja, bisnya lama...” katanya tiba-tiba.
            “Jalan kaki?”
            “Iya, sambil olahraga, ayo!”
Anak ini memang mudah ditebak dan dibaca. Karena dari tadi dia celingukan gak jelas lihat daftar bus yang datang. Aku pikir dia akan mengajakku berjalan kaki. Karena aku yakin dia sudah sering kemari. Di jalan ada beberapa ornag yang mengenalinya saking seringnya dia kemari.
            “Namamu Mirah atau Renata?” tanyaku saat orang itu menyapa Mirah dengan sebutan Renata.
            “Dua-duanya, namaku Renata Mirahda,”
            “Hanya itu, nama dari siapa?”
            “Ibuku yang memberikannya makanya ada nama Miranda,”
            “Ibumu dimana?”
            Renata tersenyum, nanti juga kau tahu,”
Sepertinya ada banyak rahasia yang tersimpan di kepala anak ini selain pelupanya. Mungkin juga karena sering lupa dia gak inget semua rahasianya. Jadi harus aku yang mancing baru keluar semua rahasianya.
            “Kenapa kau sering lupa sih?”
            “Satu kejadian membuat aku begini, tapi aku bersyukur hanya aku yang seperti ini, karena di kejadian itu ada Ibu, Ayah dan Kakakku,”
            “Kejadian apa?”
            “Entahlah, aku juga lupa,”
Aku mulai gemes. Sampai di kos. Dia menghidupkan tivi dan mengambil camilan. Aku duduk di sampingnya. Dan menawarinya ke aku. Besoknya dia harus kursus. Sebenarnya aku adalah guru di kursusnya dia entah kenapa saat pulang kursus, hari itu pertama kursus, dia juga tak kunjung pulang. Dan akhirnya dia tinggal bersamaku, yang ku tahu dia bekerja di cafe sebagai pekerjaan sampingan dan setiap bulan memberikan seluruh gajinya padaku. Dia bilang dia tidak bisa memengang uang. Aku coba setiap hari membuatnya tertawa. Dia juga sedikit demi sedikit berubah. Tapi setiap melihat peter di bus, kami pura-pura tak saling mengenal. Saat aku dan Renata memasak, tiba-tiba saja Ibu datang mampr setelah dari rumah Tante yang ada di kota ini. Baru sebentar aku menyambutnya, Renata sudah hilang. Hatiku makin penasaran kenapa dia menghilang begitu cepat. Tapi dia sempat mematikan kompor dan pergi. Saat ibu bilang ada urusan lagi, seorang menjemput ibu dengan mobil.
            “Siapa itu Bu?” tanyaku penasaran.
            “Itu calon Iparmu kelak, kalau sepupumu menikah,” melihat aku masih penasaran “Sepupu, kau tunggulah kan Ibu bilang nanti pertemuan keluarga akan diadakan seminggu lagi,”
Tepat saat ibu pulang, renata muncul dari pintu depan sambil membawa barang belanjaan.
            “Kau belanja apa sih?”
            “Kan cabe sama wortelnya abis, jadi aku beli,”
Jadi dia benar-benar tidak kabur, tapi pergi belanja. Anak ini makin hari makin aneh. Malam itu malam minggu, ada bazzar yang diadakan di kota. Aku dan renata sudah siap dengan pakaian sangat istimewa, karena kami baru membeli baju itu. Di perayaan itu beberapa kali aku lihat Renata mengosok hidungnya. Hari itu memang agak dingin. Beberapa kali juga Renata bersin-bersin.
            “Kenapa kau melihatku seperti itu?” tanya Renata memergokiku beberapa kali bersin.
            “Tidak, aku tidak melihatmu,”
            “Baiklah anggap saja kau tak melihatku....” Renata menabrak orang.
Saat orang itu mundur, dia peter. Seorang sepupu yang selalu ada di sebelah sepupunya. Memang terlalu berlebihan tapi melihat penyakit yang diderita Renata sih itu lumbrah. Kami duduk di sebuah cafe. Renata menopang dagunya, pura-pura tak melihat Peter. Aku yang kasihan melihat Peter tidak diajak bicara, ya, aku ajak bicara. Saat renata mengosong hidungnya lagi dengan sigap tangan Peter menahannya.
            “Kenapa sih kau harus selalu di sebelahku,” tanya Renata marah.
            “Kau sudah minum obatmu?” tanya Peter tak menjawab pertanyaan Renata.
Renata membuang mukanya dan pergi. Aku mohon diri dan mengikutinya. Aku terus berjalan di belakangnya. Untuk pertama kalinya aku berjalan di belakangnya. Saat naik bus ingin pulang. Kami harus berdiri karena bus penuh sesak. Banyak orang yang ingin pulang. Aku dan rena berdiri berhadapan. Pas aku berdiri di tembok. Saat melewati halte demi halte akhirnya orang makin berkurang. Tapi belum ada tempat duduk. Renata yang dari tadi menulis-nulis di kaca dengan sengaja menyentuh kepalaku.
            “Kau,”
            “Ingatlah aku, aku orang yang paling berani menyentuh kepalamu ini,” katanya.
Saat tiba di rumah aku dan dia hanya diam saja. Aku masih berfikir, apa yang akan dilakukan anak ini. Pagi-pagi saat akan diadakan acara keluarga di tempat Tanteku, yang anaknya akan menikah dengan orang yang mengantar Ibuku. Aku meninggalkan Renata sendirian di rumah. Tanpa aku sadari Renata mengikutiku dari belakang. Sampai di rumah besar milik Tanteku. Tanteku ini punya dua putri, sebenarnya 3 putri tapi kembaran putri yang satunya meninggal saat kecelakaan. Saat aku masuk ke dalam rumah, sebuah foto membuatku hampir pingsan. Foto Renata dan Peter terpang-pang di sana. Tapi saat mempelai itu turun, bersamaan itu juga Renata masuk ke rumah. Semua kaget setengah mati.
            “Rena kamu pulang sayang?” seru Tanteku memeluk Renata.
            “Aku, aku gak pernah foto begitu,” katanya.
            “Bukannya kembaran Reva sudah meninggal, Mbak?” tanya Ibuku yang tak kalah kaget.
Mempelai wanita itu benar-benar persis Renata. Mereka hanya saling berpandangan mata. Peter juga melihat Renata berdiri di hadapannya. Aku jadi bertanya-tanya, apa yang akan terjadi.
            “Aku sudah mati, hahahaha” kata Renata sambil tertawa sumbang.
Renata memengangi kepalanya yang makin terasa sakit. Di sekelilingnya mulai berputar-putar. Dan dia melihatku, dia jatuh di depanku berlutut. Aku membantunya bangkit.
            “Kalian bilang pada semua orang aku sudah mati, karena itu kalian mengurungku di rumah sakit,” Renata makin tak terkendali. “Peter itu milikku, dan kau aku berhak mengambil semua hidupku Revalina,”
            “Kenapa tak berhak, untuk hiduppun kau tak punya pilihan,”
            “Reva, tak pantas kau bicara begitu,” bentak Peter sambil memegangi Rena.
            “Mama, sama Papa ingin aku mati?” Rena menahan tangisnya, “Aku akan mati, aku akan mati,”
Rena pergi keluar, aku mengikutinya begitu juga Peter. Langkahnya terhuyun-huyun. Aku sendiri tak sanggup melihatnya. Beberapa kali air mataku menetes. Aku masih bisa melihatnya hanya menanggis, tapi yang hari ini kulihat dia sangat terpukul.
            “Berhenti mengikutiku, pergi kalian,” kata Rena mendorongku.
Kami berada tepat di tengah jalan.
            Peter menangkapku, “Kau tak apa-apa?” tanyanya.
            Aku menggeleng. “RENA!” teriakku memanggil.
Aku berlari tanpa melihat kanan dan kiriku. Rena yang berjalan menjauh kini malah berlari dan sekali lagi mendorongku ke arah Peter. Sebuah truk menghantam tubuh renata. Aku berteriak memanggil terus namanya. Darah mengucur deras dari kepalanya. Dia masih bisa membuka mata.
            “Peter, aku ingin kau menjadi milik Kakakku yang satu ini, bahagiakan dia, karena dia suka padamu,” kata Renata. “Terimakasih telah menjadi Kakak yang baik, masihkah kau ingat kecelakaan itu, apa kau tak apa-apa?”
            “Kecelakaan?” kataku.
Memoryku seakan kembali ke masa aku berumur 5 tahun. Aku diajak Tante dan Om jalan-jalan ke kebun binatang bersama Rena dan Reva. Rena duduk di depan bersama Tante dan Reva duduk bersamaku. Kecelakaan yang membuat Rena dinyatakan meninggal.
            “Jadi kau gak meninggal,”
            Rena tersenyum tipis, “Semua orang bilang aku mati, tapi aku di bawa Mama dan Papa ke Singapur, dan bertemu Peter disana, aku kabur dan menemuimu sebagai murid di les piano, aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja,”
            “Tentu, aku baik-baik saja, kenapa kau malah mencemaskan aku?”
            “Karena aku kecelakaan itu terjadi, maafkan aku,”
Reva datang dan melihat rena berlumuran darah. Dia juga tak bisa menahan harunya.
            “Kau anak bodoh, Mama dan Papa membawamu ke Singapur, kau malah lari kemari dan begini, kau pikir kau akan dikenang sampai akhir jaman?” ocehnya.
            “Kau juga masih bandel, lepaskan Peter untukku ya?”
            “Sebentar lagi ambulance datang, kalau kau hidup, Peter boleh untukmu,”
            “Dia bukan pajanganku lagi, aku ingin kak Marissa yang menjaganya untuku, Peter sudah terlalu tua untukmu,”
            “Aku mengambil Peter, agar kau mau pulang, kenapa malah begini?”
Ambulance datang. Renata masih bisa membuka matanya. Tapi sampai rumah sakit, dia dinyatakan dokter koma. Siang malam aku dan keluarga kamu termasuk Peter menjaganya.
            “Bangunlah, sudah seminggu kau begini, kau masih berhutang padaku,” kataku saat seminggu Renata koma. “Berhentilah berjalan-jalan tanpa henti, kembali ke tubuhmu,”
Renata masih tak bereaksi. Saat masuk bulan ke delapan, dokter menyerah. Dokter mengatakan jalan satu-satunya adalah merelakan dia pergi. Kami hanya bisa tertunduk lesu. Peter mungkin kelihatan lebih tabah tapi dalamnya hati siapa yang tahu. Saat seluruh keluarga menyetujuinya. Aku memejamkan mata saat dokter membuka satu demi satu alat bantunya. Titttt.... bunyi panjang dari alat pendektesi detak jantung berbunyi. Renata pergi dengan tenang. Walaupun dia dikubur, banyak orang yang masih sempat datang dan berkunjung, setiap bunga yang ada disana melambangkan betapa berartinya Renata.
            “Ayo kita pulang,” kata Peter, mengajakku pulang.
            “Mama, ini makam siapa sih, kok namanya sama kayak aku?” tanya gadis kecil yang baru bisa membaca itu.
            “Dia, adikknya Mama,” jawabku.
            “Hei, namamu sama denganku, salam kenal,” katanya. “Mama, dia ada di sini, di senyum pada kalian,”
Peter dan aku hanya tersenyum melihat Renata kecil bertingah. Aku sendiri yakin, kalau Renata memang ada disana dan mungkin benar tersenyum padaku.
            “Ayo kita pulang sayang, besok kesini lagi,” panggil Peter.
            “Besok kita kesini lagi ya, dadada,” Renata kecil melambaikan tangan.
Sebenarnya Renata memang disana dan menatap mereka sambil tersenyum. Melambaikan tangan juga pada Renata kecil.
            “Hiduplah bahagia,” katanya.
            “Kadang kata yang tak terucap lebih bermakna,” kataku teringat kata-kata yang pernah diucapkan renata.
Semua kata-kata ynag di katakan Renata tak pernah ada artinya tapi saat dia diam dan bicara dari matanya itulah yang lebih bermakna. Saat dia lupa, bukan berati dia tak mau ingat, tapi dia hanya ingin melupakan. Hidup bahagia adalah impian banyak orang. Mau mewujudkannya? Cobalah tersenyum iklas....




The end...

No comments:

Post a Comment