Thursday, September 22, 2016

Be My Love

        Vanilla mengeluh kesal setengah mati. Tiap kali dia melihat Marco dihadapanya. Mereka satu tempat kursus surving. Tapi Vanilla memang lebih jago dari Marco tapi Marco jelas tak mau mengakui kekalahanya dari wanita. Apalagi itu Vanilla. Gadis yang juga bekerja ditempatnya menyewa papan surving. Jelas dia lebih jauh terlihat kalah. Marco adalah anak pemilik perusahan ternama di Australia. Muka Marco termasuk tampan dan banyak wanita yang menyukainya. Dan Marco hanya suka bermain-main dengan para wanita itu. Karena kebiasaan itu Vanilla juga tak suka dengannya. Dia tahu setiap hari, Mario datang ditemani teman wanitanya yang berbeda-beda. Karena keahilannya surving maka banyak wanita mengangguminya juga. Dia juga cukup cerdas dan juga kaya. Wanita mana yang tak suka padanya, 
Cuma Vanilla, dia tak suka melihat Marco berkeliaran dihadapannya. Vanilla berbeda 180 derajat dengan Marco. Dia cuek, untuk berdandan saja dia tak punya waktu. Dia harus bekerja paruh waktu untuk biaya kuliah. Tinggal bersama bibinya dan mengikuti kursus bahasa Inggris. Dia juga bukan cewek cantik tapi cewek ganteng. Rambutnya pendek seperti pria, baju kesayangannya saja baju kaos, sepatu kets, dan jaket kulit. Dia jauh lebih maco dibanding Marco.
        “Semakin hari kamu semakin baik, good job Vanilla,” puji sang pelatih.
Vanilla tersenyum girang, “Itu karena coach juga, terimakasih,” kata Vanilla dengan wajah yang manja.
Marco mendengus kesal. Kini gilirannya. Karena pelatihnya semakin hari semakin memuji Vanilla, Marco mulai tak fokus. Beberapa kali dia mengulang dia tetap salah. Dan pelatih hanya bisa mengeleng kepala.
        “Marco, kau harus focus,” teriak pelatih marah-marah.
Sebenarnya Vanilla kasihan juga kali Marco harus terus dimarahi tapi mau apalagi salahnya sendiri gak fokus. Jangan salahin orang. Tapi Marco hanya bisa menunduk, dia ingin sekali mengalahkan Vanila diturnamen surving yang akan diadakan sebentar lagi.
        Semakin hari semakin Papa Marco cemas. Saham di perusahaan semakin menurun. Gaya Marco juga tak bisa berubah. Dia bisa menghabiskan jutaan bahkan ratusan juta sekaligus dalam sehari. Pengeluaran yang lumayan bisa bikin Papanya naik darah. Dan Papanya akhirnya menelpon adiknya yaitu Om dari Marco. Sepulangnya Marco dari latihan surving, dia sudah melihat papanya dan omnya duduk berhadapan di ruang tamu.
       “Sebentar lagi papa akan terancam bangkrut, mulai besok kamu akan tinggal dirumah ommu, untuk sementara waktu,” kata papanya saat mellihat Marco berdiri dihadapannya
        “Kau akan menjadi guru di tempatku les, understand Marco?” kata Omnya.
        “Aku bisa sih bahasa Indonesia, tapi gajinya berapa dulu?” tanya Marco.
        “Papamu bahkan akan jatuh miskin kau masih bisa bicara begitu, untuk makanpun kau akan susah,” Om Marco yang bernama Rudy itu mendesah. “Mulailah belajar dewasa, bekerja ditempat kursus bahasa Inggris om, mengerti”

Mario menyandarkan punggungnya di sofa. Karena papanya sudah lepas tangan dari Marco, dia harus menuruti keinginan Omnya. Esok harinya, dia mulai kerja. Siang mengajar anak-anak dan malam dia akan mengajar orang dewasa. Tiba saat mau ke ruang guru ada sosok yang dia kenal sedang mendengarkan musik dari mp3nya dan duduk santai di sofa. Benar-benar itu Vanilla. Marco sengaja duduk di sampingnya dan menganggu Vanilla.
        “What the hell....” kata Vanilla marah.
Dan melihat Marco duduk manis di sampingnya. Mereka saling menunjuk dan saling sebut nama. Dan lebih parahnya guru baru Vanilla dalah Marco. Dengan senyum penuh kemenangan dia selalu menyuruh Vanilla menjawab soal dan selalu menyerangnya. Dan dari sana Marco tahu seberapa pintar Vanilla. Disamping dia bekerja di tempat kursus dan penyewaan surving dia harus pergi ke kampus dia juga harus les bahasa Inggris. Dia begitu banyak kegiatan tapi dia fokus. Itulah yang akhirnya menyadarkan Marco. Keesokkan harinya di tempat latihan surving dengan kagetnya Vanilla saat Marco menawarinya minum.
        “Aku bukan wanita yang kau kenal ataupun bukan pengemarmu, kenapa kau berubah 180 derajat padaku?” tanya Vanilla.
        “Aku hanya bersikap baik pada muridku, apa salah?” jawab Marco.
Beberapa teman dari surving mendatangi Marco dan dengan enteng meminjam uang. Marco yang tak ingin semua orang tahu dia jatuh miskin segera mengeluarkan uang 400 ribu. Mata Vanilla terbelalak.
        “Kau benar-benar pabrik uang, dengan mudah kau keluarkan uangmu demi orang lain,” sindir Vanilla.
Marco mulai mencerna kata-kata Vanilla. Jelas Vanilla benar. Saat Vanilla ingin pergi, Marco menahan tanganya.
        “Ajari aku berhemat,”
        “Apa?”
       “Ajari aku sepertimu,”
       “Kau gila ya, atau kemarin kau terbentur sesuatu?”
Marco menarik Vanilla ke tempat yang lebih sepi. Vanilla tak tahu apa yang akan di lakukan Marco di tempat itu. Tapi saat sampai disana Marco malah duduk lesu. Vanilla akhirnya memberanikan duduk di sebelah Marco. Marco bercerita tentang kebangrutan yang dialami orangtuanya. Satu persatu juga wanita yang dia dekati menjauh. Dan kenapa dia sampai bekerja di tempat les Vanilla. Saat sampai di rumahnya, Vanilla dan mario di tempat yang berbeda, mereka sama-sama duduk dan menopang dagu. Kakak Vanilla memasuki kamarnya. Membawa buku berhitung.
        “Habis, sudah habis,” katanya
        “Besok ku belikan lagi ya, Kak?” jawab Vanilla dan memeluk Kakaknya.
Vanilla sebenarnya selalu berbohong pada semua orang. Dia tak tinggal sama sekali dengan Bibinya. Dia kabur saat akan menuju ke sana. Orang tuanya tak bisa menerima keadaan kakaknya sekaligus saudara kembarnya. Vanilla dan Vanny, dilahirkan kembar di sebuah keluarga kaya raya di Bali. Karena waktu itu pamor orang tuanya sedang naik dan bertepatan saat Papa mereka akan menjabat sebagai Walikota. Saat berumur dua tahun akhirnya penyakit Vanny ketahuan. Lama mereka menyembunyikan hal itu, sampai Vanilla dan Vanny berumur 17 tahun. Orang tua mereka akhirnya mengirim mereka ke bibi mereka yang juga Pisikiater. Tapi saat mereka hampir sampai, Vanilla membawa Vanny kabur. Dia juga pindah sekolah ke sekolah biasa. Sampai akhirnya tak ada satupun dari keluarga mereka tahu dimana mereka. Vanny menderita autis. Tapi Vanilla tahu kalau Vanny menyukai buku berhitung, jadi setiap kali akan pergi Vanilla meninggalkan Vanny dengan banyak buku berhitung. Dengan berhitung maka Vanny akan diam di rumah. Vanilla akan menyiapkan makanan di dalam tudung saji, dan Vanny akan mengambilnya sendiri, sesuai dengan nomor di piring itu.
        “Ini sudah malam, Kakak harus tidur,” perintah Vanilla.
Dia menuntun Vanny ke kamarnya. Menyelimuti Vanny, dan menghidupkan lampu meja dan mematikan lampu kamar Vanny. Dia sendiri malas berfikir tentang apapun. Membantingkan dirinya sendiri di atas kasur dan menatap langit-langit adalah jawaban satu-satunya. Rasanya ia ingin ada jawaban di langit-langit itu.
        “Bagaimana, kau mau ngajariku?” tanya Marco tak sabaran.
        “Tapi ada bayarannya, tak ada yang gratis di dunia ini,” katanya
       “Aku akan memberikanmu ¼ uang dari gajiku,”
       “Aku tak ingin uangmu, kau akan menuruti semua keinginanku selama kau belajar agar sepertiku,”
       “OK’’
Dan sebuah telpon dari tempat penitipan kak Vanny menelpon. Ada perasaan tak enak di hati Vanilla. Saat Marco menyetujuinya, Vanilla malah menjauh untuk menerima telpon. Betapa kagetnya Vanilla, saat tahu kak Vanny menghilang. Rasa takut mulai menyerangnya. Tanpa sadar Vanilla menarik Marco.
        “Kita mau kemana?” tanya Marco bingung.
        “Kita cari kakakku, ayo,” jawab Vanilla panik.
        “Hei, mana aku tahu Kakakmu,”
        “Kau pasti tahu, nanti, karena dia mirib denganku,”
Marco yang masih bingung akhirnya membantu Vanilla. Sepanjang jalan dekat tempat penitipan di telusuri Vanilla dan Marco. Belum juga nampak keberadaan Vanny. Saat mereka berada di dekat lampu merah, seorang gadis yang benar-benar mirib Vanilla, dia berjalan makin jauh.
        “Itu bukan?” kata Marco menujuk gadis itu.
Marco baru tahu Vanilla sangat nekat saat dia panik. Jelas-jelas lampu masih menyala merah untuk pejalan kaki, dia malah berlari dan Marco hanya bisa mengikutinya sampai Vanila mendekap tubuh gadis itu dan menariknya ke tepi jalan. Gadis itu meronta dan berteriak kencang. Saat gadis itu berbalik dan melihat yang memengangnya ia baru tenang.
        “Kenapa Kakak pergi?” kata Vanilla marah.
        Gadis itu mengulur sebuah buku matematika, “Habis, sudah habis,”
Ah, Vanilla lupa memberikan buku berhitung baru untuk kakaknya. Dia segera menelpon tempat penitipan kalau Kakaknya sudah ketemu, dan mungkin akan bersamanya. Sepanjang jalan Vanny memeluk erat tangan Vanilla.
        “Kalian kembar, benar kan aku?” tanya Marco
        Vanilla melihat jam, “Kita harus makan,” kata Vanila
Marco makin bingung tapi dia tetap saja menurut kemana Vanilla pergi. Sebuah warung kecil mereka masuki. Untuk pertama kalinya Marco masuk tempat itu. Tempat yang biasanya di masuki Marco adalah restaurant, cafe atau tempat yang lebih bergengsi.
        “Bu mie ayamnya dua ya, kau mau apa?” tanya Vanilla.
        “Sama saja denganmu,”
        “Jadi tiga ya?”
Saat mereka duduk tenang, Vanilla baru bercerita semuanya dan sesungguhnya. Mario baru tahu, kalo ada yang lebih buruk nasibnya dari dirinya, kebangkrutan masih bisa diperjuangkan, tapi kalo tidak mengakui anak karena kekurangan, baginya mustahil tapi kini terjadi di depannya.
        “Aku ingin kau membayar dengan membelikan buku berhitung untuk Kakakku, deal?”
        “Buku berhitung apapun?”
        “Apapun, sebulan kau banyar buku saja, puas?”
Vanilla membantu Marco untuk berhemat dengan menggunakan Kakaknya untuk menghitung. Kalo menghitung jelas Vanilla kalah jauh dari kakaknya. Dalam satu detik saja dia bisa menjawab semua pertanyaan yang diajukan, hanya satu detik, waktunya berfikir. Tiba di toko buku, mulanya Marco tak percaya kehebatan Vanny menghitung, dia hanya akan membelikan buku sampai 100 ribu. Tapi setelah tiba di kasir. Saat secara bersamaan Vanny menghitung dan mesin menghitung, angkanya sama dan jauh lebih cepat Vanny menghitungnya. Tiba di tempat kerja Vanilla, Vanny dengan patuh duduk di meja dan mulai menghitung. Vanilla hanya memantaunya dari jauh.
        “Kalian hanya berbeda di rambut,”
        “Aku hanya tak mau ketahuan,”
        “Ya, aku akui sekarang kau jauh lebih hebat dibanding aku,”
Terdengar suara bos Vanilla ribut. Dia bingung saat orang yang biasanya mengecheck keuangan berhenti mendadak.
        “Aku punya juru hitung handal, tapi bapak berani bayar berapa?” tanya Marco.
        “Kau punya, siapa, aku berani gaji besar,”
Vanilla hanya bisa bengong saat Marco mengajukan Vanny sebagai pengelola keuangan.
        “Tapi dengan satu syarat, jangan ajak dia bicara,” timpal Vanilla. “Biar aku jadi pengantar bos dengan Kakakku, bagaimana?”
Semua setuju, hari ini Vanny mulai di tes. Dalam beberapa detik dia telah selesai menghitung jumlah keluar dan masuknya uang. Tinggal uang kas, Vanilla minta agar bosnya sendiri yang menghitung, agar tak salah paham. Bosnya setuju. Mulai saat itu, setiap sore Vanilla dan Vanny berangkat bersama. Vanilla tak perlu lagi membayar uang penitipan, dan tak perlu was-was kalau penitipan telpon dan bilang Vanny menghilang. Lagipula pekerjaan yang sekarang Vanny lakukan adalah pekerjaan yang dia senang. Saat dia pergi ke kampus maka giliran Marco menjaganya saat pagi sampai siang.
        Tanpa mereka ketahui, sebuah mobil mercedes hitam mengintai mereka. Orang yang ada didalam adalah Papa Vanilla dan Vanny. Seorang Dektektif masuk ke dalam mobil setelah bertanya pada seseorang di seberang mobil.
        “Nona Vanilla yang mengosok papan itu, jadi yang duduk di dalam bisa saya pastikan adalah nona Vanny, dan beberapa orang pernah menyapanya atau mengajaknya bicara, mereka bilang dia tak pernah melihat mata orang yang diajak bicara, dan tata bahasanya juga sedikit membingungkan,” lapor Dektektif itu.
Yang diajak bicara hanya diam dan melihat Vanilla dengan giat mengosok papan surving dengan lap, memeriksa kalau ada yang belum bersih. Dalam hatinya dia sungguh menyesal demi jabatan yang sekarang sudah dia raih, dia membuang kedua putrinya dan mencoba memiliki anak lagi. Tapi semua usahanya percuma, itu karmanya karena membuang anak yang sangat spesial. Karena menurut dektektif itu juga, Vanny adalah orang paling jago menghitung, sama seperti kata Vanilla, hanya dalam satu detik dia bisa menjawab soal sesulit apapun. Mobil itu mengikuti Vanilla dan Vanny sampai pulang ke rumah.
        “Waktunya kakak makan,” kata Vanilla membuka nasi goreng yang mereka beli.
        Vanny tersenyum dan memakannya.
Seseorang mengedor pintu. Vanilla yang sedang di kamar tak mendengarnya. Vanny membuka pintu.
        “Siapa Kak....” kata Vanilla terhenti saat melihat kedua orangtuanya berdiri di hadapannya. Vanilla menarik tangan Vanny. “Kakak makan lagi ya,”
        Vanny menurut dan pergi ke dapur.
Marco datang sambil bawa gorengan kesukaan Vanny. Marco juga berhenti mendadak saat beberapa orang bertubuh besar berbaris di dekat rumah Vanilla.
        “Ada apa ini?” tanya Marco tak mengerti.
        “Masuklah, temani Kak Vanny,”
Marco tak membantah. Dia juga masuk ke dapur. Dan juga sedikit menguping. Vanilla berdiri dengan tegar di hadapan kedua orangtua yang ingin membuang anaknya demi jabatan. Hatinya bergetar hebat. Kebenciannya memuncak tajam saat Mamanya memeluknya.
        “Untuk apa kalian datang?” teriak Vanilla bergetar hebat. Dia juga mendorong mamanya dan akhirnya jatuh di hadapan Papanya. “Untuk apa kalian kemari, mau kalian bawa kemana lagi Kakakku, kalau kalian tak inginkan dia, bertanya padaku, aku akan menjaganya,”
        “Papa, hanya ingin membawa kalian pulang,” kata Papanya pelan
        “Apa karena kalian tak punya anak lagi selain kami?” tegas Vanilla. Muka mereka berubah. “Apa kalian tak bisa lagi punya anak, sekarang datang dan seperti kemarin tak terjadi apapun, begitu?”
Papa dan Mamanyapun tak bisa menjawab. Vanny ngeloyor masuk dan berjalan menuju kamarnya dan berhitung di meja di ruangan itu. Sontak mamanya memeluk Vanny. Dan dengan keras Vanny merontak dan berteriak keras. Vanilla menarik ibunya menjauhi Vanny.
        “Dia sama sekali tak ingat kalian, dia sama sekali tak ingin kalian,” kata Vanilla dan memeluk Vanny agar dia tenang.
        “Tinggallah bersama kami, dan berhenti bekerja, biar aku yang menjaga Vanny,” kata Mamanya sendu dan berlinang air mata.
        Vanilla tersenyum. “Apa kau tak ingat yang terjadi saat kami berumur 5 tahun, kau malah menendang Vanny ke kolam renang, apa kau pikir aku akan membiarkan itu terjadi lagi?”
Marco yang mendengar itu tak bisa lagi menyembunyikan hatinya yang bergetar. Separah itukan orang tua yang ingin anaknya normal. Marco yang melihat Vanilla makin brutal menahan dan membekap tubuh Vanilla. Dia meminta orang tua Vanilla dan Vanny pergi, dan menunggu agar suasana lebih nyaman untuk datang lagi. Marco menarik Vanilla di kamarnya, disanalah Vanilla menangis sejadi-jadinya. Dan lagi-lagi Marco pertama kali melihat Vanilla menangis.
        “Kau lebih cantik kalau marah di banding menangis,” ledek Marco.
Vanilla menghapus air matanya dan menjitak kepala Marco. Dia kembali lagi ke ruang tengah. Vanny masih menghitung. Vanilla mengeluarkan tugasnya dan mengerjakannya. Marco makan gorengan yang dia bawa sambil berdiskusi dengan Vanilla cara dia mengajar. Marco merasa ada yang kurang dari caranya mengajar.
        “Coba kamu pake contoh ngajarnya,” kata Vanila.
        “Contoh, what, for example?”
        “Itu, kamu aja perlu contoh buat mengerti, jadi, berikan contoh pas kamu ngajar, tapi yang simple, ok teacher?” vanilla diam sejenak. “Kenapa jadi bengini, kenapa cepat sekali aku berubah?”
        “Kau gak harus marah, mereka juga orangtuamu bukan?”
Marco tersenyum. Banyak ide bagus yang ia dapat dari Vanilla. Banyak hal juga yang Vanilla peroleh dari Marco, seperti belajar bahasa Inggris dan membuat tugas kampus. Vanny juga akhirnya menjadi tugas mereka berdua.
        “Kau ada hubungan apa sih dengan Mr. Marco?” tanya salah satu temannya.
        “Aku, dengan Marco, tidak ada apa-apa di antara kami, kenapa?” tanya Vanilla heran.
        “Karena tiap kali Mr. Marco mengajar, dia pasti senyum ke arahmu, dan...”
        “Dan itu belum berarti bukan apa-apa, dia kan memang selalu tersenyum,”
        “Makin lama, Mr. Marco makin cakep,” kata yang lain.
Vanilla hanya tersenyum aneh. Dia bertanya pada dirinya sendiri, setampan itukah seorang Marco? Sampai semua wanita terpikat karenanya, apa dia bukan wanita normal, dan tak bisa melihat Marco yang tampan? Jadilah Vanilla menatapnya saat ia mengajar, bermain surving, menjaga Vanny. Dan kembali bertanya di dalam dirinya, sudah berapa lama ia menyiayiakan waktunya karena tak tahu ternyata Marco lumayan tampan.
        “Kenapa akhir-akhir ini aku melihatmu, look at me like that?” tanya Marco saat matanya kembali bertemu dengan mata Vanilla.
        “Look you like what?”
        “That,”
Vanilla tersenyum kecut. Dan kabur ke kamar kak Vanny, melihatnya sudah tidur atau belum. Marco berdiri di belakangnya, tanpa Vanilla sadari. Dan saat Vanilla berbalik ke belakang dia tepat berhadapan, wajahnyapun berjarak hanya lima senti. Vanilla sontak mendorong Marco sampai terjungkal ke bawah.
        “What the hell...” teriak Marco tak terima.
        Mata Vanilla terbelalak, “Sorry,”
Vanilla mengulurkan tangannya ke Marco. Marco meraih tangan Vanilla tapi dia bukan ingin bangun tapi dia malah menarik Vanilla sampai jatuh di atasnya.
        “Kau baru sadar ya kalau aku handsome, apa bahasa indonesianya?”
        “Tampan,Bukan, sampai hari ini aku tak menyadari kau setampan orang bilang,”
        “WHAT?”
Vanilla membekap mulut Marco. Teriakannya bisa membuat semua orang bangun. Tanpa mereka sadari, mereka semakin dekat. Sampai naik ke level dia tetap menjadi guru.
        “Kau masih gak bisa memafkan orangtuamu,” tanya Marco
        “Marco butuh waktu yang lama untuk bisa memafkan seseorang yang sudah membuatmu terlalu kecewa,”
        “Kau benar, kau masih butuh waktu,”
Vanilla menyembunyikan sesuatu dari Marco. Dia mendaftar beasiswa untuk kuliah di Australia. Dan hari ini pengumuman apakah dia akan menerimanya atau tidak. Sampai di kampus, dia melihat papan pengumuman. Namanya muncul di urutan ke lima, karena yang bisa menerima beasiswa itu hanya 10 orang. Dia melompat kegirangan. Seorang pria berjas rapi menepuk bahunya dan dia meloncat kaget.
        “Selamat, kau juga diterima bekerja magang di perusahaan yang memproduksi komputer, kau hebat Vanilla,” kata pria itu.
        “Terimakasih, ini juga berkat Bapak,” kata Vanilla sambil menyambut tangan pria itu yang tidak lain adalah dosennya.
Sementar itu Marco membuka pintu, seorang gadis cantik masuk. Dia seakan tak mau melepaskan tangan Marco, dia bergelayut manja. Dia adalah mantan pacar Marco yang terakhir.
        “Bukannya kau pergi dariku karena kau tahu aku jatuh miskin?” tanya Marco curiga.
Nama gadis itu Agnes. Marco memang masih mencintai gadis di hadapannya itu. Tapi hari itu dia merasakan ada yang kurang di hatinya. Ada yang bukan harusnya ada. Hatinya ternyata lebih nyaman bersama Vanilla. Tapi Marco membuang rasa itu, pikirannya masih berfikir, kalo Vanilla bukan cintanya tapi hanya selingan. Tepat saat Marco bermesraan dengan Agnes, Vanilla tak sengaja datang dan melihatnya.
        “Maaf aku menganggu,” katanya tak enak.
Marco terperajat kaget, dia memaki dirinya sendiri. Agnes hanya terdiam.
        “Siapa dia?” tanya Agnes.
        “Dia, seorang teman, biar ku kenalkan,” jawab Marco. “Dia Agnes, Agnes dia Vanilla,” Agnes dan Vanilla bersalaman.
        “Kau tahu aku pacar Marco,”
        Vanilla tersenyum, “Itu bukan urusanku sepertinya, aku mau menjemput Kakakku,”
        “Asal kau tahu saja, aku ini putri Walikota,” balasnya sombong.
        “Yuda Pratama, itu ayahmu,” Vanilla tersenyum sinis. “Jadi dia mengangkatmu menjadi anak?”
        “Apa katamu?”
        “Anaknya hanya aku dan Kakakku,”
        “Apa?”
        “Pernah dengar nama kami,” Vanilla mulai malas, “Ah, sudahlah, senang bertemu denganmu, Adikku,” katanya.
Vanilla pergi dan ke kemar tempat Vanny berhitung. Dia masih asyik dengan buku di hadapanya. Vanilla mengajak Vanny pergi. Vanny memengang erat tangan Vanilla. Mereka turun dan bertemu Marco dan Agnes. Vanilla menyuruh Marco untuk tiga hari ini jangan menemuinnya, dia akan sibuk dengan banyak hal, Vanny akan dititipkan di rumah orang tuannya.
        “Kau akhirnya memaafkan orangtuamu?”
        “Apa yang kau katakan benar, bagaimanapun mereka tetap orangtuaku, benarkan?” baru berjalan selangkah. “Aku juga merasa terlalu lama menganggumu tak baik, permisi,”
Vanilla pergi membawa Vanny ke rumah orangtuannya. Sampai di sana mereka di sambut ramah.
        “Aku kesini untuk menitipkan Vanny sebentar, karena tiga hari lagi aku akan ke Australia membawanya,” kata Vanilla memulai.
        “Ke mana,?” kata mamanya kaget, “Kenapa mesti pergi sejauh itu?”
        “Dengan kalian hanya mengakui kami sebagai anakpun kami sudah senang, aku tak mau merepotkan kalian terlalu banyak,”
        “Tapi kalian masih anak kami,” jawab papanya.
        “Aku sangat berterimakasih saat kalian mau menjaga Vanny,”
Vanilla mengantarkan Vanny ke sebuah kamar untuk Vanny. Dia memberi tahu Vanny, dia akan datang setelah urusannya selesai, dia juga berpesan Vanny akan diam kalau ada buku untuknya berhitung jadi jangan sampai bukunya habis. Karena setelah buku itu habis, dia akan mencari keberadaan Vanilla. Vanilla permisi setelah Vanny duduk dan berhitung. Dalam dua hari Vanilla menyesaikan paspor miliknya dan Vanny. Tiket pesawat juga sudah ia dapatkan. Malam terakhirnya di Bali, dia menyempatkan diri untuk menemui Marco lagi. Tapi baru samapi di halaman. Dia mendenga Marco bicara di balcon dengan seseorang.
        “Siapa, gadis siapa yang kau maksud?” tanya Marco sambil tertawa. “Dia bukan pacarku, ya bisa diibaratkan dia hanya mainan agar aku tak bosan saja,”
Vanilla kini tahu apa dan bagaimana dirinya di hati Marco. Dia bukan apa-apa, bukan siapa-siapa. Hanya sebuah permainan. Vanilla tetap menekan bel di pintu masuk. Marco yang sudah menutup telpon membuka pintu sambil tersenyum dengan Vanilla seperti tak terjadi apapun.
        “Aku akan pergi ke suatu tempat yang jauh,” kata Vanilla tanpa masuk ke dalam rumah.
        “Kau bicara apa?”
        “Sebagai teman, aku berterimakasih atas semuanya,”
        “Teman, what do you talk about, hah?”
        “Bukannya aku hanya permainan, ya aku bukan seperti wanita kebanyakan yang kau lihat, kau sentuh dan kau tiduri kan?” kata-kata yang keluar darimulut Vanilla membuat Marco terperajat kaget.
Vanilla pamit tanpa mengubris penjelasan Marco. Dia pergi dan membawa motornya jauh. Saat Vanilla dan Vanny diantar ke bandara oleh papa, mama dan Agnes. Pesawat mereka pun berangkat ke Australia.
        Agnes menemui Marco yang mengurung diri di kamarnya. Dia sendiri merasakan Marco yang kini bukan Marco yang dia kenal. Marco kini malah lebih baik dan lebih sopan. Bukan Marco yang ingin semua maunya di penuhi. Marco merasa hatinya hampa. Ia sendiri tak tahu apa yang hilang. Sebulan, dua bulan, setahun sampai lima tahun. Sudah lima tahun Vanilla dan Vanny tinggal di Australia. Kadang Mama dan Papanya datang menjenguk. Dia juga sudah menjadi General Manager di perusahaan itu, sekolahnya pun sudah tuntas. Vanny bisa sekolah di sekolah untuk anak autis. Tapi Vanilla merasakan hatinya juga hampa.
        “Marco, Papa sudah terlalu tua, nanti akan ada G.M yang akan mengajarkanmu tentang semau yang ada di perusahaan ini,” kata Papa Marco saat Marco kembali ke Australia.
        “Marco belum siap, Pa,” katanya
Seseorang masuk. Mata Marco masih terpaku jauh memandang jendela membelakangi Papa dan orang yang baru masuk.
        “Marco ini G.M kita, namanya Vanilla,”
Marco berbalik dan melihat seseorang yang ia kenal berdiri disana. Vanilla sendiri tak sama sekali tersenyum melihat Marco di hadapannya.
        “Vanilla?”
        “Kalian saling mengenal?”
        “Tidak Pa, kami baru pertama kali bertemu,”
Marco tahu Vanilla sangat marah saat malam terakhirnya bertemu Marco. Papa Marco menjelaskan semua yang harus Marco tahu. Vanilla mengajari Marco dengan sikapnya dingin. Dia juga selalu menolak saat Marco ingin mengajak makan atau ke hal yang pribadi. Marco kadang juga mengalihkan pembicaraan, tapi Vanilla langsung membloknya ke arah pembicaraan yang benar.
        “Aku minta maaf,”
        “Untuk apa tuan Marco minta maaf?”
        “Kau bukan permainan, aku salah, aku...aku”
        “Aku, what?” Vanilla berjalan meninggalkan Marco di lobby. “Enough Marco, enough!”
        “I...I..I LOVE YOU SO MUCH, VANILLA!” teriaknya.
Semua orang berbalik dan menatap Marco dan Vanilla. Vanilla kaget setengah mati. Dia sama sekali tak percaya Marco berteriak dan menyebutkan hal itu di lobby yang penuh orang.
        “Are you crazy, Marco?”
        “I’m crazy because you, please, give me one changes,”
        “For what?”
Marco tak bisa menjawab. Semua ini salahnya. Kenapa dia terlalu takut mengakui kalau dia mencintai Vanilla. Vanilla menatapnya kecewa dan pergi. Marco menarik tangannya. Sampai wajah Vanilla dan Marco hanya berjarak lima senti. Dan Marco mencium Vanilla. Vanilla mendorong tubuh Marco, tapi Marco terlalu kuat, dia sama sekali tak bisa mengelak.
        “Kau juga mencitaiku, kan?” kata Marco saat mereka sudah di mobil.
        “Kau benar-benar gila,” teriak Vanilla. “Menciumku di depan orang banyak, di lobby juga, sick of you,”
        “Hei, hei, come down,”
Vanila mengigit bibirnya dan mengacak-acak rambut Marco. Tapi yang dianianya malah tersenyum.
        “Inilah Vanilla yang aku kenal, jangan marah lagi ya?”
        “Kalau bertemu denganmu tak tahu kenapa aku selalu ingin marah, dimalam terakhir kita bertemupun, kau tak mengejarku”
Marco langsung lesu, dia yang sekarang menatap Vanilla. Vanilla sekarang bukan Vanilla dengan rambut seperti pria. Dia sekarnag malah memakai rok pedek dan setelan jas untuk perempuan. Rambutnya juga mulai panjang.
        “But, you are still My teacher, so...”
        “What?”
        “I hate you but...” Vanilla tertunduk. “I love you..” wajah Vanilla merah padam.
Marco tersenyum dan mencium pipi Vanilla. Mereka berpegangan tangan sampai di rumah Vanilla. Tak ada yang bisa mengendalikan cinta. Siapa pun tak akan tahu kapan cinta akan berubah menjadi benci dan kapan benci menjadi cinta. Cinta juga sama seperti air, tak ada yang bisa menghentikannya mengalir.

The end...


No comments:

Post a Comment